RSS

ESENSI SEBUAH KEJUJURAN (pembelajaran ROSULULLOH)

06 Aug

Keterpurukan dan krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia selama lebih tiga dasawarsa terakhir ini tidak lebih disebabkan karena ketidak-jujuran para penguasa kita yang duduk di Legislatif, Ekskutif maupun Yudikatif. Hal ini menyebabkan negara Indonesia menyandang gelar negara terkorup se-ASEAN. Fenomena ini pun telah mengakar dan bahkan sudah menjadi tradisi di masyarakat kita, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan papan atas (elite), aksi suap menyuap dimana-mana, para koruptor tak henti-hentinya memakan uang rakyat dan yang paling parah dan patut disayangkan sedikit sekali dari mereka yang berhasil diseret ke meja hijau oleh pihak yang berwajib untuk diadili.

Berbicara tentang arti kejujuran, maka kita bisa mengambil hikmah dari potongan kisah salah satu Sahabat Nabi SAW. Suatu ketika seseorang sahabat Nabi datang kepada Nabi SAW. Kemudian Dia Matur kepada Rasul, ” wahai Muhammad Aku ingin ikut ajaranmu, Cuma aku masih senang mabuk-mabukan, mencuri, berzina dan berbohong. orang orang bilang kamu melarang kesukaanku itu, sungguh, aku tidak sanggup meninggalkanya, apakah masih ada peluang bagiku untuk bersamamu?’ Nabi menjawab, jangan khawatir, Islam terbuka pada siapa saja .kalau kamu masih ‘gemar’ dengan kebiasaanmu itu, tidak apa apa lah, tapi satu syarat yang harus kamu penuhi” apa itu Muhammad” Tanya laki laki itu penasaran “jujurlah jangan suka berdusta !!!. Dia terima persyaratan tersebut dan masuk Islam ” Gampang sekali agama Muhammad, syaratnya hanya jujur” gumannay dalam hati.

Setelah keluar dari baitnya (dalem) Kanjeng Nabi, teman temannya menawarkan Khamer . Dia berfikir, ” kalau aku minum dan Muhammad Tanya bagaimana aku menjawabnya ? jika bohong aku mengingkari janjiku, dan kalau jujur, Muhammad pasti akan menghukumku dengan Had. Akhirnya Dia enggan meminum khamer. Dalam perjalanan pulang, diapun bertemu sahabat karibnya yang menawarkan gadis cantik untuk berzina, kebingingan dan keraguan kembali menderanya diapun memilih untuk menolaknya.

Keesokan harinya, laki-laki itu menghadap Rasulullah SAW. Wahai Rasaulullh alangkah Indah ajarannmu, ketika kamu menyuruhmu untuk tidak berdusta, maka pintu maksiat tertutup bagiku , tak ada lagi hasrat untuk melakukannya” laki laki itupun bertaubat dan Nabi SAW. Hanya tersenyum bersyukur kepada ALLah SWT.

Ilustrasi diatas dapat mengugah hati kita untuk bertanya tentang hakekat kejujuran dalam kehidupan sehari hari? Untuk itu penulis mencoba untuk mengungkap tabir rahasia arti sebuah kejujuran. Jujur dalam kosa kata bahasa arabnya adalah as-sidqu. Para ulama menggambarkan arti jujur dengan persesuain kata hati dengan realitas. Alqusyairi mengatakan bahwa jujur merupakan keseimbangan antara yang sirr (rahasia/tersembunyi) dan alaniyah ( kasat mata). (ar-risalah Al-Qusyairiyah hal 116)

Lebih lanjut, al juanid berpendapat, hakekat kejujuran adalah berkata benar dalam kondisi yang gawat yang memaksa dia untuk berdusta akan tetapi dia tetap konsis untuk tetap berkata yang benar. Dengan demikian seseorang yang perkataan dan perbuatanya benar dan sesuai dengan kenyatan kemudian dia merefleksikan kebenaran itu dengan perbuatan maka orang inilaha yang disebut dengan as-shidiq

Dalam kitabnya Ihya Ulumiddin Imam Ghozali menjelaskan bahwa kata as-sidqu (jujur) digunakan pada enam pengertian. Pertama, shidqu al-lisan ( jujur dalam perkataan ) maka dari sini perkataan seseorang harus sesuai dengan kenyataan yang ada termasuk menepati janji. Dalam hal ini ada dua komponen penting Pertama, menghiundar dari ma’aridl ( hal hal yang tidak sesuai dengan realitas) karena tujuan jujur adalah apa yang dimaksud secara esensial bukan luarnya maka tidak bisa dikatakan jujur jika seseorang yang berkata tanpa tahu apa yang sesungguhnya. Kedua, menjaga arti kejujuran dalam perkatan yang digunakan untuk munajat kepada allah. Dalam arti apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang ada didalam hati. Kedua, shidqu fi an-niat wa al-irodah (jujur dalam niat dan kehendak) artinya semua yang kita lakukan benar benar murni diniati karena allah tidak ada motifator lain yang menyuruh kita untuk bergerak dan diam kecuali sang maha pencipta. Ketiga, shidqu al-azmi (jujur dalam tekad) artinya kita bertekad dengan sungguh untuk melaksanakan keinginan demi kebaikan misalnya saja anda bertekad untuk menjadi presiden yang adil bijaksana, anti korup dan sebagainya. Keempat, as-shidqu fil wafa bi al-azmi ( jujur dalam melaksanakan tekad ) hal ini merupakan konsekwensi dari shidqu al-azmi karena ketika impian sudah menjadi kenyataan maka kita harus merealisasikan sesuai dengan apa yang sudah menjadi tekad kita sejak awal. Kelima, as-shidqu fi a’mal (jujur dalam perbutan) artinya perbuatan kita merupakan cerminan apa yang ada didalam hati, kalau kita berbaju koko (taqwa) dengan peci putih maka paling tidak hati kita benar benar bertaqwa dan putih bersih dari sifat tercela sesuai dengan dhahirnya. Keenam, as-shidqu fi maqamati al din (jujur dala maqam maqam agama) seperti jujur dalam zuhud ikhlas, ridho, tawakkal, cinta dan sebagainya, maka dengan demikian kita sungguh telah menjalani didalam maqom maqom tersebut.

Meskipun tidak semua jujur adalah baik seperti mnyebarkan aib seseorang, adu domba , memberikan informasi yang tidak disukai oleh keluarganya dan sebaigainya akan tetapi kejujuran juga bisa mengatarkan kita kepada ke-haraman ketika kejujuran itu akan mendatangkan malapetaka dan kerusakan sebaliknya jujur akan membawa kedamaian jika mampu memahami makna dan esensi sebuah kejujuran.

Dari urain diatas, kita bisa petik bahwa betapa sebuah kejujuran merupakan inti dari pergaulan dan syarat berinterkasi antar sesame manusia dalam kehidupan sehari hari. Makanya bukan berlebihan jika Nabi SAW. Bersabda. ” sesunguhnya jujur mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan membaewa ke surga, sesungguhnya seorang laki laki haruslah bersikap jujur sehingga ia menjadi seoarang yang shiddiq”

Paling tidak, Dengan kejujuran maka empat hikmah yang akan dapat kita raih, pertama, sikap kelapangan dan ketengan jiwa karena Nabi juga bersabda ” kejujuran itu adalah ketenangan” Kedua. Mendapakatkan keberkakahan dalam usaha kita (bisnis) ketiga, mendapatkan keuntungan Dunia dan akherat dengan pahala yang seperti yang diberikan kepada para stuhada’. keempat, akan terhindar dari hal hal yang dibenci.

Maka dari sinilah, mari bersama sama menciptakan kejujuran didalam segala bidang, berawal dari diri kita masing masing agar kita termasuk orang orang yang melaksanakan perintahNya sesuai firman Allah SWT pada surat attaubah yang artinya : ” wahai orang orang yang beriman , bertaqwalah kalian kepada allah dan jadilah kalian bersama orang orang yang jujur (QS. At-Taubah : 199) fal yatammal ya turooooo!!!!!!!!!

 
Leave a comment

Posted by on August 6, 2010 in Nasehat

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: