RSS

DESIGN IJTIHAD KONTEMPORER (pembaharuan ijtihad)

05 Aug

Ijtihad adalah penggalian hukum dari teks-teks keagamaan baik berupa dari Qur’an maupun Sunah. Maka dari itu ijtihad merupakan upaya kerja keras yang bermodalkan intelektualitas dan kepiawaian metodologis dalam memahami interpretasi teks ajaran baik secara literal maupun kontekstual dengan menggunakan kaidah kaidah universal yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip dasar syariah yang sering di sebut dengan maqoshid al –syari’ah.

Seputar Isu yang berkembang pada abad ke Empat Hijri dengan di tutupnya pintu gerbang ijtihad oleh para kalangan ulama tidak lepas karena kekhawatiran mereka terhadap para oknum yang akan menyalahgunakan perangkat Ijtihad ini sebagai media untuk mengistimbatkan sebuah hukum dengan tanpa mengunakan metodologis dalam upaya menafsiri teks keagamaan sesuai kepentingan masing masing. Terlebih jika seseorang tersebut tidak mempunyai kapasitas untuk berijtihad sehingga hasil ijtihadnya di anggap menyalahi pendapat jumhur (syadz).

Untuk menghindari hal tersebut, makanya para ulama meletakkan syarat-syarat untuk mendapatkan gelar seorang mujtahid sangat sulit dan rumit,. Imam Syatibi dalam kitab al muwafaqot menyebutkan bahwa seseorang patut memperoleh predikat seorang Mujtahid jika seseorang tersebut dilengkapi dengan dua kemampuan yang memadai : Pertama, Faham Tujuan Syariat (Maqosid Al-Syariat) secara konprehensif, kedua, mampu menggali hukum dengan segala kemampuan intelektualitasnya dan pengetahuan yang memadai menyangkut tradisi dan kebiasaan masyarakat Arab sebagai masyarakat awal yang menjadi sasaran wahyu.

Lebih lanjut As-Syaukany dalam kitabnya Irsyadul Fuhul fi tahqiq ilm Al-Ushul menambahkan bahwa seorang mujtahid juga harus memenuhi syarat-syarat dalam berijtihad yang merupakan sebuah keharusan bagi seorang Mujtahid seperti : mengetahui tafsir ayat-ayat Ahkam dan Hadits-hadits ahkam secara konprehensif, memahami masalah Naskh Mansukh dari Qur’an dan Hadits, mengetahui masalah masalah yang menjadi consensus (ijma) ulama, Memahami Qiyas dan Syarat-syaratnya serta illat al-ahkam, metodologi dalam beristinbath dari teks, prinsip dasar syariat dan maslahah untuk seluruh ummat manusia, Memahami susastra Arab dari segi ilmu Nahwu, Shorof, Balaghoh, Bayan, Ma’ani. juga harus mahir dibidang Ilmu Ushul Fiqh dan maqoshid As-Syariah.

Kebutuhan ijtihad pun dizaman ini semakin mendesak. hal itu karena perkembangan zaman dan kemajuan yang tidak bisa lagi dibendung. Medernisasi membawa dampak dan pengaruh yang sangat besar sehingga sudah menjadi suatu keniscayaan untuk berijtihad. kemajuan yang mengarah pada perubahan social kultur dan gaya hidup (life style) yang modern mengakibatkan munculnya masalah kontemporer yang selama ini masih belum terpecahkan, terutama ditengah munculnya problem kemanusiaan yang semakin kompleks. Problem kehidupan yang sedemikian struktural dan sistemik, tentu butuh solusi dan jalan keluar yang ideal dan kogkrit.

Barangkali bagi orang yang getul menelaah khazanah kitab kitab klasik (turots) akan mengatakan bahwa dizaman ini tidak lagi dibutuhkan ijtihad baru, karena setiap permasalahan yang muncul dewasa ini semuanya sudah ada di kitab kitab klasik. Hal semacam ini tidak lebih karena kebanggaan dan ketakjuban mereka terhadap turast kita. Secara pribadi, hal ini tidak bisa dibenarkan secara mutlak karena meskipun sebagian para ulama telah menelurkan hukum hukum yang bersifat antisipatif (fiqh Iftirodhi) akan tetapi pemahamannya pun perlu adanya penyesuain dengan konteks kekinian sesuai dengan kondisi yang kita hadapi sekarang, karena kita tahu tantangan kehidupan masa kini tidak akan persis sama dengan kehidupan abad pertengahan dan kekinian jauh lebih rumit dan dinamis ketimbang kesilaman

Jadi, kebutuhan untuk berijtihad merupakan kebutuhan yang terus menerus dan berkesinambungan selama peristiwa kehidupan terus berkembang dan kondisi sosial masyarakat mengalami perubahan dan kemajuan. Dan selagi syariah islam masih layak sebagai tuntunan ummat yang bersifat akomodatif dan solutif pada setiap problem kemanusian yang muncul  disetiap zaman dan tempat. Dari sini ijtihad merupakan keniscayaan yang tidak bisa di tawar lagi mengingat perubahan yang luas di segala aspek kehidupan .dan kemajuan teknologi yang menjadikan luasnya dunia seakan sesempit daun kelor.

Adapun yang saya maksud dengan ijtihad kontemporer disini bukan berarti mengabaikan  dan membuang jauh-jauh khazanah keilmuan produk para ulama (turost) terdahulu, akan tetapi yang saya maksud adalah :Pertama, upaya penelaahan kembali turosts kita yang terdiri dari berbagai madzhab yang mu’tabaroh diberbagai zaman, kemudian dilakukan pentarjihan pendapat pendapat para ulama salaf yang sesuai dengan tujuan syariat dan menegakkan kemaslahatan umat di zaman ini sesuai dengan perkembangan kondisi dan situasi yang menuntutnya. Kedua, reorientasi Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama tasyri’ dengan memperdalam pemahaman kontektual dari segi tujuan syariat secara universal. Ketiga, menggalakkan ijtihad dalam masalah masalah kontemporer yang selama ini belum dibahas oleh para ulama terdahulu.

Tidak diragukan lagi munculnya beberapa perusahaan yang bergerak di bidang perekonomian dan perbangkan menimbulkan banyak problem yang harus ada penyelesaian ujung pangkalnya baik ditilik dari perspektif fiqh islam maupum sosiologi masyarakat terhadap dampak yang ditimbulkanya. Seperti munculnya perserikatan saham dengan bentuk yang bermacam macam, Asuransi jaminan hidup dan kepemilikan dll. Begitu juga dari bidang kedokteran dengan kecanggihan teknologi mampu melakukan pencangkokan tubuh, proses pembuahan bayi tabung dll. yang juga butuh solusi dari tinjauan  hukum islam.

Hal ini sejalan dengan pendapat Dr. yusuf Qordhawi yang tertuang dalam bukunya Al-Ijthaid Al-muasir baina Al-Indhibath wal Al-Infiroth. Beliau menyebutkan bahwa kebutuhan berijtihad dewasa ini terbatas pada dua medan ruang lingkup : Pertama, masalah masalah berkisar pada transaksi keuangan dan perekonomian islam. Kedua, masalah fiqhiyah yang berhubungan dengan kedokteran seperti seputar pencangkokan anggota tubuh, bayi tabung, dll.

Kalau boleh meminjam istilahnya Moqsith Ghozali bahwa ijtihad adalah upaya menembus kawasan yang tak terfikirkan. Maka tentunya berijtihad bukanlah hal yang mudah dan gampang. tentu juga banyak menguras tenaga dan fikiran karena kita dituntut harus berlabuh pada medan areal teks teks keagamaan yang luas dan lebar pemabahasanya. Dari segi indikasi teks (dilalah nash) tentu berbeda, ada yang qoth’i dan dhonni begitu juga dari segi linguistik, bahasa arab yang dikenal mempunyai karakter  berbeda dengan bahasa lainnya sangat berpotensi dalam terjadinya perbedaan dalam memahami maksud teks (nash).

Karena itu, untuk saat ini ijtihad jama’i (kolektif) adalah merupakan bentuk ijtihad yang efektif, hal ini karena dua argumen: pertama, dengan mengoptimalisasikan atau menggalakkan ijtihad kolektif berarti telah mencegah oknum-oknum yang sengaja berijtihad atau berfatwa dengan mengedepankan hawa nafsu dan tendensius dengan kepentingan golongan . Kedua, mengingat bahwa syarat-syarat bagi seseorang yang menpunyai otoritas berijtihad (mujtahid) sangatlah rumit, maka dengan ijtihad kolektif akan saling melengkapi satu sama lain, karena dizaman modern ini banyak ulama yang mempunyai spesialisasi dalam disiplin ilmu tertentu. Sehingga dengan berkumpulnya para ulama dengan keahlianya masing-masing maka syarat-syarat dalam berijtihad dapat terpenuhi. Ketiga, problematika yang kita hadapi lebih rumit dan membutuhkan multi disiplin ilmu pengetahuan.

Dr. Qordhawi mengklasifikasikan model (design) Ijtihad kontemporer dalam tiga bentuk: Pertama, Berijtihad model Kodifikasi madzhab (taqnin) atau pemilihan pendapat para ulama Madzhab secara kolektif, dimulai dari perbedaan pendapat imam madzhab dengan para sahabatnya (pengikut) dalam skup satu madzhab kemudian dikomperasikan dengan pendapat imam-imam madzhab lain (al-Madzhab Al-Arba’ah) dan seterusnya, baru kemudian dipilih pendapat yang lebih kuat dari segi dalilnya yang dapat dijadiakan hujjah, dengan disesuaikan dengan maqosid al-syariah al-kulliyah.

Paradigma ini sebenarnya sudah dimulai sejak pada paruh akhir imperatur ustmani dengan melakukan kodifikasi didalam hukum hukum Perdata (Al-Ahwal As-Syahsyiyah) ketika kerajaan ustmani membuat undang undang “perkawinan” dengan memilih madzhab maliki dalam masalah hukum perceraian suami istri dengan menetapkan bahwa seoarang istri mempunyai hak untuk minta cerai apabila dianggap suaminya melakukan kekerasan kapadanya seperti halnya suami berhak mencerai istrinya dengan jalan thalaq. Begitu juga masalah suami yang hilang tanpa khabar maka istri berhak untuk menikah dengan laki-laki lain apabila sudah melebihi 4 tahun masa kepergian suaminya.

Kedua, Berijtihad model Fatwa baik yang bersifat resmi (pemerintah) seperti darul ifta di mesir, riayah al-ifta di saudi Arabia dll. Atau yang bersifat individu yang termuat di majalah majalah seperti : Al-Azhar, Nurul Islam, Minbar Islam di Mesir, Al-Wa’I Al-Islami di Kuwait, Manarul Islam di Abu dhobi, As-Shahab di Beirut dll. Dan juga termasuk bentuk fatwa yang tercetak dalam bentuk kitab seperti fatwa Syeh Mahmud Syaltuth, Syeh Husain Mahluf dan juga kitab “fatawa muashirah” yang merupakan kumpulan fatwa Dr. Yusuf Qordhawi dalam masalah kontemporer yang dikutip dari siaran televisi Qatar. Atau fatwa yang bersifat kelompok seperti : Majma’ al-bukhust Al-Islamiyah lil Azhar di Kairo, Majma’ Al-Fiqh Al-Islami dll. Ketiga, Berijtihad model Penelitian dan Studi Pustaka. Model ini biasanya dijumpai pada karangan ilmiyah yang diajukan dalam seminar seminar, diskusi tertentu, atau semacam dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi yang diajukan untuk mendapatkan Gelar Sarjana (Beclarius, Magister, Doktor). Semua ini berpotensi untuk berijtihad dalam masalah furuiyah, dalam upaya perbandingan pendapat ulama dalam proses kodifikasi pendapat ulama secara kolektif sehingga menelurkan pendapat baru hal ini jika memenuhi syarat syarat penelitian ilmiyah.

Dari ketiga model ijtihad tersebut nampaknya dapat memenuhi kebutuhan dalam memberikan solusi dari setiap permasalahan yang muncul di permukaan. Hanya saja perlu dibentuk Lajnah Pusat Fatwa untuk seluruh dunia yang berfungsi sebagi pemantau hasil fatwa para ulama dalam masalah masalah kontemporer. Hal itu untuk menghindari munculnya fatwa fatwa yang melanggar consensus ulama (ijma) atau karena tidak adanya kemampuan dalam berfatawa dari segi metodologisnya  sehingga fatwanya dianggap sesat.

Contoh kongkrit yang telah terjadi adalah fatwa Al-Mahkamah As-Syar’iyah al-ulya majlis ifta di Bahrain yang telah menfatwakan bolehnya mengadopsi anak temuan (laqith) dengan jalan istilhaq (pengakuan nashab) yakni dengan menashabkan anak tersebut kepada pengadopsi sehingga anak tersebut seakan menjadi anak kandungnya konsekuensinya anak tersebut berhak mendapat harta waris jika ayah angkatnya meninggal. Fatwa seperti ini jelas menyimpang karena antara adopsi (tabanni) dengan istilhaq jelas berbeda esensinya. Para fuqoha menjelaskan bahwa setiap orang berhak untuk melakukan istilhaq atau pengaukan nashab terhadap orang lain bermaksud bahwa hal ini terbatas pada pengakuan nashab secara hakiki dan anak tersebut benar benar darah dagingnya baik anak tersebut di hasilkan dari hubungan atas nikah sirri, wathi subhat dan lainnya atau bahkan sebagian ulama membolehkan istilhaq ini terhadap anak hasil perzinaan seperti yang di rojihkan ibn taimiyah.

Dan jika tidak ada hubungan darah daging antara anak dan bapak sama sekali seperti yang terjadi pada kasus pengadopsian anak (tabanni) hal seperti ini diharamkan untuk menashabkan anak angkat dengan bapak (pengadopsi). Makanya ulama berpendapat bahwa istilhaq atau pengakuan nashab terhadap seseorang jika didasarkan pada kebohongan         (Al-kidzb) makanya hukumnya haram dan termasuk perbutan dosa besar bahkan hampir mengarah pada kekafiran.

Fatwa seperti ini, tidak lebih karena ketidakfahaman terhadap nash-nash syar’I dan lebih mengedepankan hawa nafsu mereka dengan berhujjah demi kemslahatan. Ketergelinciran dan penyimpangan (tahrif) seperti ini  yang harus diantisipasi dan diwaspadai. Sehingga di butuhkan badan majlis ifta seluruh dunia yang bisa meluruskan dan mengcounter fatwa fatwa yang dianggap sesat.

di presentasikan oleh saudara mufid dj lc, ahgaff univercity

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on August 5, 2010 in artikel

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: